
OPN – Garut ,Dalam upaya meningkatkan pemahaman dan kompetensi guru terhadap pendidikan inklusi, perwakilan guru-guru Sekolah Dasar se-Kecamatan Tarogong Kidul mengikuti Seminar Siswa ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) yang digelar pada Jumat (10/10/2025).
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber ahli, yaitu Dr. Cahyandari, N.Sp.K.Fr., AIFO-K, dokter spesialis rehabilitasi medik, serta Dr. Yogi Setia Priawan yang turut memberikan pemaparan mengenai pendekatan medis dan psikologis terhadap anak berkebutuhan khusus di lingkungan pendidikan dasar.
Ketua PGRI Kecamatan Tarogong Kidul, H. Enung Farhan Nurdin, S.Pd., M.M., dalam sambutannya menyampaikan pentingnya pemerataan kesempatan belajar bagi semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK).
“Perlunya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus sama dengan yang lainnya untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Jangan sampai ada sekolah yang menolak mereka hanya karena berbeda,” ujarnya.
Enung juga menyoroti bahwa di Kecamatan Tarogong Kidul saat ini baru terdapat dua sekolah dasar yang telah berstatus sekolah inklusi, yakni SDN 2 Pataruman dan SDN 4 Pataruman. Ia berharap ke depan lebih banyak sekolah yang siap menerima dan mendampingi siswa ABK.
Sementara itu, Dr. Cahyandari dalam pemaparannya menjelaskan bahwa tantangan utama dalam mendidik anak berkebutuhan khusus (ABK ) bukan hanya pada fasilitas, tetapi juga pada kemampuan guru memahami karakteristik dan kebutuhan belajar masing-masing anak.
” perhatian yang paling penting adalah penerimaan terhadap mereka dan kepada para orangtua sekarang tidak sendiri tenaga pendidik sudah bekerja disana karena support sistem kami tidak hanya dari sisi keluarga tetapi dari sisi kesehatan dan sisi sekolah maju bersama optimalkan kemampuan anak ” paparnya.
Kesulitan bagi anak ABK sering kali muncul karena sekolah inklusi masih terbatas. Guru perlu mengenali karakteristik setiap anak dan menerapkan inovative teaching method dengan kurikulum yang disesuaikan serta komunikasi yang baik dengan orang tua
Melalui seminar ini, para peserta diharapkan dapat menerapkan strategi pembelajaran yang adaptif, membangun lingkungan belajar yang ramah, serta memperkuat kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan tenaga medis.
Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat pendidikan inklusif di Kabupaten Garut, khususnya di wilayah Tarogong Kidul, agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensinya.
Deden Rudi gunawan
